Pengantar Hipnotisme

PENGANTAR HIPNOTISME

Hipnotisme berasal dari istilah asing yaitu HIPNOSA yang berarti tidur. Tidur dalam hal ini bukanlah seperti tidur biasa melainkan tidur yang telah ditransfer atau tidur yang telah dialihkan. Peralihan inilah yang kelak dipakai dalam pelaksanaan Hipnotisme yang disebut TRAN­CE, artinya peralihan dari tidur biasa ketidur diluar dari biasa yang disebut tidur HIPNOSA.

Kata “Trance” itu sendiri berasal dari istilah Inggris TRANSFER yang berarti penyaluran, pemindahan atau peralihan.

Kita semua bisa tiba-tiba berada dalam suatu keadaan yang sangat mirip dengan hipnotis yang sesungguhnya pada suatu waktu yang disebut dengan periode “aram-temaram”, tidak lama sebelum tidur secara normal. Salah satu di antara bentuk hipnotis yang paling umum adalah melamun. Dan bisa berkisar dari hipnotis ringan sampai berat. Banyak di antara kita yang telah mengalami trans hipnotis, tanpa menyadarinya, ketika sedang menyetir dalam perjalanan panjang di jalan raya modern. Suara senandung yang monoton dari mesin mobil, tidak adanya gangguan, garis putih yang panjang tidak ada putusnya di tengah jalan bagai sebuah titik fiksasi visual, bahkan tanpa-tanda yang dirancang untuk efisiensi maksimum, merupakan kondisi yang ideal untuk induksi trance hipnotis Contohnya seorang pengendara yang terkejut oleh guncangan akibat mobilnya terantuk batu atau penghalang di jalan, hanya untuk menyadari bahwa dia sebetulnya telah mengantuk sejenak sampai-sampai mobilnya oleng ke pinggir secara berbahaya. Satu subjek yang terhipnotis, bila dibiarkan, akan selalu tidur secara alami sebelum terbangun kembali dari keadaan transnya. Hal ini terjadi pada begitu banyak orang ketika mereka “terlena” pada waktu menyetir mobil jarak jauh di jalan raya.

Banyak di antara kita yang telah mengalami perasaan aneh ketika sedang menyetir tanpa menyadari tanpa-tanda lalu lintas atau bangunan yang mereka lewati, atau melewati banyak bangunan tanpa melihatnya, dan melewati seluruh bagian kota tanpa ingat bahwa kita pernah melewatinya. Sebenarnya apa yang kita alami dalam contoh-contoh kejadian ini adalah satu amnesia (kehilangan daya ingat karakteristik yang terjadi setelah hipnotis berat.

Kalau dilihat dari sudut pandang ini, maka hipnotis merupakan fenomena yang sangat normal. Tidak ada yang bersifat mistis di dalamnya. Tidak ada “mata jahat” atau “mata hipnotis.” Apa yang disebut dengan “magnetis­me,” apakah itu “orang” atau “binatang,” tidak ada hubungannya dengan hipnotis; dan bukan merupakan suatu pertanyaan apakah seseorang telah menyerah pada atau dikuasai oleh kemauan orang lain.

Seperti halnya siang yang sangat berbeda dengan malam, maka demikian pula perbedaan antara konsep yang ditawarkan oleh hipnotisme modern dengan konsep yang ditawarkan oleh seorang Franz Mesmer yang mengenakan mantel warna ungu pucat dan membuat para pasiennya yang histeris ke suatu keadaan “trans mesmerik” dengan sekali pandang lewat matanya dan satu lambaian tangannya. Penyelidikan ilmiah atas hipnotisme menunjukkan, bahwa induksi trans jelas merupakan satu proses yang penting dalam menangkap kembali seting atau keadaan dan suasana hati yang biasanya mengarah pada periode “aram-temaram” sebelum tidur, melamun, dan “hipnotis jalan raya” yang umum terjadi. Konsep trans hipnotis sebagai fenomena normal sehari-hari adalah sangat penting. Hal ini akan segera menghilangkan batas wilayah operasional hipnotis. Pandangan ini membuang pendapat orang di masa lalu tentang hipnotis, dan memfokus pandangan yang tepat atas subjek ini. Subjek ini langsung menjadi satu individu dengan keistimewaan­nya sendiri dan respons yang sangat pribadi. Siapa pun yang telah menjelajahi kedalaman trans, dan telah melewati lebih dari demonstrasi yang ditunjukkan di pentas, akan menghargai kekayaan ragam dan individualitas respons hipnotis. Dari sudut pandang riset ilmiah modern, subjek yang mengalami trans tidak lagi bisa dipandang sebagai seorang au­tomaton yang perilakunya telah ditentukan sebelumnya oleh perintah hipnotis, tetapi lebih sebagai seseorang yang memberikan respons secara unik terhadap hipnotis, sebagaimana halnya terhadap jenis instruksi yang lain, dan yang perilaku transnya tergantung terutama pada dua hal, yakni kemampuan sendiri untuk belajar, dan, kemampuan juru hipnotis untuk mengajar.

Pemindahan dari tidur biasa ke tidur hipnosa ini terjadi oleh karena Kesadaran yang merekrut atau menipis yang semakin lama semakin mengecil dan akhirnya kesadaran itupun lenyap beralih kealam di BAWAH SADAR yang sering disebut dengan “Tidur Hipnosa”. Tidur didalam teori hipnotisme dibagi menjadi bermacam-macam. Da­ri Alam sadar, beralih kesetengah tidur, kemudian beralih pula ke tidur yang ringan sampai tidur yang lelap sekali. Disini tidur sangat diperlukan sekali karena dengan tidur yang lelap dalam Hipnotisme, orang akan de­ngan mudah untuk menerima SUGESTI atau SARAN-SARAN yang ternyata sangat memegang peranan penting sekali dalam pelaksanaan Hipnotisme ini. Dan keterangan-keterangan tentang Sugesti atau Daya Saran ini akan diterangkan pada bagian berikutnya. Dalam Hipnotisme tidur yang diperlukan adalah tidur peralihan, yaitu peralihannya dari sadar biasa kepada tingkat persiapan untuk tidur, atau tingkat persiapannya sebelum tidur, dimana pada tingkat peralihan antara SADAR dan TIDAK itulah yang menciptakan keadaan Hipnosa, berdasarkan sugesti-sugesti yang diberikan oleh sang Juru Hipnotisme.

Sugesti-sugesti yang dilancarkan oleh sang Juru Hipnotisme itulah yang akan menguasai AKAL PIKIRAN seseorang yang dihipnotisir di­mana orang tersebut tidak lagi mampu menggunakan “Akal sehatnya”, karena dalam keadaan hipnosa SUYET tersebut tidak ada lagi kemampuan untuk menentang kemauannya sang Juru Hipnotisme.

Kemauan suyet tersebut telah sedemikian lemahnya sehingga tidak mampu lagi untuk menentang kehendaknya sang juru Hipnotis. Dalam hal yang lemah itulah suyet kemudian akan selalu menurut dan mematuhi segala perintah-perintah dari sang Juru Hipnotisme. Istilah SUYET dipergunakan disini sebagai pengganti kata “orang yang dihipnotisir”.

Kata sugesti itu sendiri bukan berarti tidur karena sugesti yang dalam istilah sehari-hari berarti “daya saran”, jadi tidak selamanya sugesti dihubungkan dengan tidur. Bisa saja seseorang menyarankan kepada orang lain tanpa dalam keadaan tertidur, tetapi anehnya justru didalam praktek Hipnotisme ini, sugesti diberikan pada suyet dalam keadaan “tidur”.

Adakalanya memang, dimana suyet tersebut menentang kemauan sang juru Hipnotis, atau menolak saran-saran yang diberikan juru Hipnotis; dan untuk mengatasi hal-hal itu, perlulah suyet dilemahkan dahulu kesadarannya dengan cara disugestikan untuk tidur.

Ditidurkan bukan berarti dibius atau diberi tablet-tablet tidur, tetapi tidur yang dilakukan dengan perantara KEKUATAN atau DAYA dari sang juru Hipnotisme yang dilancarkan sedemikian KUAT sehingga mampu menguasai dan mempengaruhi keadaan fisik maupun mental dari sang suyet, sedangkan suyet sendiri yang telah dilemahkan sedemikian rupa kesadarannya oleh kekuatan sang juru Hipnotis, hanya tinggal satu saja pikiran dan kemauan suyet yang ada, yaitu menuruti segala kehendak dan perintah-perintah dari juru Hipnotis, tanpa dapat mengadakan perlawanan sedikitpun.

Keletihan dan kelelahan seseorang dapat pula menyebabkan orang menjadi lemah kesadarannya dan mengantuk. Demikian lemah kesadaran itulah yang menyebabkan seseorang dapat dihipnotisir tanpa perla­wanan sedikitpun. Lemah kesadaran bukan berarti lemah sarafnya karena orang yang lemah syaraf dapat diartikan gila. Dan orang yang gila sangat sukar sekali dalam menerima sugesti atau saran-saran, dimana saran-saran dan sugesti itu hanya dapat diberikan kepada orang yang sehat fisik maupun mentalnya.

Dalam keadaan lelah dan mengantuk ini, orang cenderung beristirahat atau berlepas lelah.

Dengan kaki diselorohkan diatas bangku panjang, badan bersandar dan tangan ditumpu diatas paha, merupakan kesan-kesan orang beristirahat. Sikap yang santai sangat membantu mengendorkan otot-otot dan jari­ngan-jaringan saraf diseluruh tubuh, sehingga dapat membebaskan kete-gangan-ketegangan yang ada. Dan karena otot-otot diseluruh tubuh kendor, dibagian jaringan saraf halus yang ada disekitar kepala juga ikut lambat bekerjanya dan akibatnya urat-urat sekitar mata juga beristirahat dengan rasa kantuk yang amat sangat dan kemudian tertidur.

Demikianlah dalam proses tidur ini, jaringan-jaringan tubuh membe­baskan ketegangan ketegangan yang ada secara menyeluruh sehingga terjadilah pelepasan total dari semua keletihan keletihan yang ada. Da­lam keadaan demikianlah sering dikatakan oleh para Ahli dibidang ilmu-ilmu ilmiah sebagai ISTIRAHAT MUTLAK atau pengendoran total da­lam jaringan-jaringan tubuh secara selaras, tanpa beban atau tekanan-tekanan, baik tekanan-tekanan daripada pikiran ataupun tekanan-tekanan dari perasaan.

Didalam Hipnotis, keadaan tidur ini terjadi dengan adanya sugesti-sugesti sehingga dari keadaan sadar dan tidak tidur, dengan daya KEKUATAN hipnotisme melalui sugesti-sugesti, dibangunlah sebuah kekuatan gaib untuk menpiptakan keadaan yang mampu melemahkan kesa-daran menjadi kendor, makin mengendor, kemudian mengantuk dan akhirnya tertidur.

Proses tidur dibahas secara panjang lebar ini karena yang dikatakan Hipnotisme sebenarnya adalah proses Peniduran. Jadi seseorang yang dihipnotisir itu sebenarnya adalah orang yang DITIDURKAN, ditidurkan bukan atas kehendaknya sendiri melainkan tidur atas kemauan sang Juru Hipnotisme, melalui prosedur yang bertingkat-tingkat, dimana Suyet da­ri tidak mengantuk itu, disugestikan sedemikian rupa sehingga menjadi tertidur.

Pembatasan tingkat keadaan tersebut tidak dapat diketahui dengan pasti karena tingkat-tingkat tersebut tergantung dari lelap dan tidaknya tidur itu sendiri. Semuanya itu tergantung suyet dapat cepat menerima sugesti atau suyet lamban dalam penerimaannya sugesti itu sendiri, di-samping sugesti itu sendiri, disamping kemampuan dan keahlian juru Hipnotisme dalam memberikan sugestinya karena sering terjadi justru dikarenakan sang juru Hipnotisme itu sendiri yang kurang mahir dalam menyusun sugesti sehingga timbullah aksi penolakan dari suyet dan aki-batnya suyet tidak dapat di Hipnotisir atau ditidurkan oleh sang juru Hipnotis.

Pernah terjadi di Irlandia dimana seorang juru Hipnotisme yang terkenal ulung dan mahirnya, mengadakan pertunjukan massal menghipnotis 10 (sepuluh) orang sekaligus secara bersamaan, dan dalam penghipnotisannya itu ternyata BERHASIL. Tepuk tangan dan sambutan-sambut-an hangat dari para penonton luar biasa. Mereka semuanya kagum dan mengelu-elukan sang juru Hipnotisme tersebut. Tetapi pada saat menjelang pertunjukannya yang kedua dimana la diharuskan mempertunjukkan penghipnotisan pada seorang gadis yang kebetulan wajahnya sangat mirip dengan putrinya, tiba-tiba saja konsentrasi pikirannya terganggu, karena la teringat akan putrinya yang pada saat ini sedang dirawat dirumah sakit akibat kecelakaan.

Sang juru Hipnotisme tersebut berusaha menenangkan pikirannya sendiri; tetapi tidak berhasil, bahkan ia semakin gugup rasanya. Akibatnya dalam pertunjukan yang kedua itu la terpaksa mengalami kegagalan, dikarenakan didalam memberikan Sugestinya itu, si Gadis atau suyet-nya kurang dapat menerima dan memahaminya.

Demikianlah, seklumit kisah yang bisa untuk dijadikan pegangan bahwa SUGESTI itulah yang memegang peranan yang sangat penting arti-nya dan pada sugesti itulah yang menentukan gagal atau berhasilnya seseorang didalam penghipnotisirannya.

Daya saran yang lemah-lembut, lunak dan enak didengar akan mudah diresapi dan ditanggapi oleh suyet dari pada daya saran yang bernada ke-ras kaku dan kasar. Memang dalam beberapa hal kekerasan atau sugesti-sugesti yang kasar perlu terjadi yaitu bilamana ada seorang suyet yang kebal dan lamban daya tangkapnya.

Apabila suyet melawan sugesti yang diberikan Juru Hipnotisme, berarti didalam diri sang suyet tersebut ada aksi penolakan. Aksi penolakan tersebut timbul dikarenakan mungkin suyet ingin memamerkan kekuatan-nya bahwa la sanggup atau dapat menentang kehendak Sang Juru Hipno­tisme.

Disinilah letak tugas penting yang terbeban pada sang juru Hipnotis­me, dimana dalam memberikan sugesti ia harus mengadakan suatu PENEKANAN dalam menyarankannya, sehingga rasa “keras kepala” dari suyet itu akan TERTINDIH oleh timbre atau nada suara dari sang Juru Hipnotisme yang tegas dan berwibawa. Apabila Sang Juru Hipnotisme tidak mengambil sikap demikian, dapat dipastikan sudah bahwa suyet akan merasa menang dan merasa lebih unggul dari akibat merasa berha­silnya suyet dalam melawan pengaruh sugesti itu. Dan apabila Juru Hipnotisme tetap bersikap lunak, tidak usah disangsikan lagi; “Kegagalanlah” yang ada sebagai hasilnya.

Tidak dalam hipnotisme saja, sikap demikian itu terjadi, tetapi bahkan dalam keadaan sehari-hari yang “telah dan akan” dialami oleh para Juru Hipnotisme .Pengaruh-pengaruh demikian itu ada, dimana yang bersikap mengalah, justru akan ditekan oleh lawan dan sebaliknya apabila sang juru hipnotis­me bersikap keras sedikit, merekalah yang akan bersikap lunak!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *